Jumat, 29 Agustus 2014

Uskup Bandung YM Antonius Subianto Bunyamin OSC (Pegang Tongkat Uskup) bersama Kardinal (kiri), Nunsius (kanan), dan para uskup



Uskup Bandung YM Antonius Subianto Bunyamin OSC (Pegang Tongkat Uskup) bersama Kardinal (kiri), Nunsius (kanan), dan para uskup

Source : Fb Tradisi Katolik



Read more »

Kamis, 28 Agustus 2014

Fransiskus Radiama N
















Read more »

Kota Keindahan

Foto: Renungan Rabu, 27 Agustus 2014: Kota Keindahan

Pw St Monika; I: 2 Tes 3:6-10, 16-18; Mzm 128; Luk 11-17

Ada suatu simbol tersembunyi dalam bacaan Injil hari ini. Dikisahkan Yesus masuk ke sebuah kota yang bernama Nain. Arti dari kata Nain adalah “keindahan”. Di gerbang kota ada rombongan yang membawa jenazah seorang anak laki-laki tunggal dari seorang janda. Ada kebiasaan orang Yahudi memakamkan jenazah di luar kota. Perhatikan gerakan dari setiap peristiwa!

Seorang janda hanya menggantungkan nasib kepada anak-anaknya saja. Nah, dalam bacaan ini, sang janda hanya mempunyai satu anak, dan sekarang anak itu mati. Bisa dibayangkan nasib janda ini kemudian hari. Hidup dia hancur berantakan. Mungkin, ia akan menjadi pengemis yang menggantungkan hidup kepada belas kasih orang lain. Hal itu dilukiskan secara indah dengan adegan si janda “keluar” dari pintu gerbang kota “keindahan”. Tapi, hidup sang janda tak indah lagi.

Yesus bertemu dengan rombongan ini. Yesus membangkitkan anak dari janda itu. Dilukiskan Yesus menyerahkan anak itu kepada ibunya. Bisa dibayangkan, rombongan ini tidak jadi meninggalkan kota Nain. Mereka masuk lagi ke kota yang penuh keindahan. Inilah gerak hidup si janda yang diselamatkan Yesus dari kehancuran.

Rahasia inilah yang dibongkar Paulus dalam bacaan pertama, di mana Paulus mengatakan kepada jemaat di Tesalonika, “Tuhan mengaruniakan damai sejahtera kepadamu terus-menerus dalam segala hal karena Ia menyertai kalian semua.”

 Kota Keindahan

Ada suatu simbol tersembunyi dalam bacaan Injil hari ini. Dikisahkan Yesus masuk ke sebuah kota yang bernama Nain. Arti dari kata Nain adalah “keindahan”. Di gerbang kota ada rombongan yang membawa jenazah seorang anak laki-laki tunggal dari seorang janda. Ada kebiasaan orang Yahudi memakamkanjenazah di luar kota. Perhatikan gerakan dari setiap peristiwa!

Seorang janda hanya menggantungkan nasib kepada anak-anaknya saja. Nah, dalam bacaan ini, sang janda hanya mempunyai satu anak, dan sekarang anak itu mati. Bisa dibayangkan nasib janda ini kemudian hari. Hidup dia hancur berantakan. Mungkin, ia akan menjadi pengemis yang menggantungkan hidup kepada belas kasih orang lain. Hal itu dilukiskan secara indah dengan adegan si janda “keluar” dari pintu gerbang kota “keindahan”. Tapi, hidup sang janda tak indah lagi.

Yesus bertemu dengan rombongan ini. Yesus membangkitkan anak dari janda itu. Dilukiskan Yesus menyerahkan anak itu kepada ibunya. Bisa dibayangkan, rombongan ini tidak jadi meninggalkan kota Nain. Mereka masuk lagi ke kota yang penuh keindahan. Inilah gerak hidup si janda yang diselamatkan Yesus dari kehancuran.

Rahasia inilah yang dibongkar Paulus dalam bacaan pertama, di mana Paulus mengatakan kepada jemaat di Tesalonika, “Tuhan mengaruniakan damai sejahtera kepadamu terus-menerus dalam segala hal karena Ia menyertai kalian semua.”

Ref Bacaan KS
Pw St Monika; I: 2 Tes 3:6-10, 16-18; Mzm 128; Luk 11-17


Read more »

Senin, 25 Agustus 2014

Laki-laki yang adil, hanya mencintai satu wanita, sebagaimana dia menuntut wanitanya hanya mencintainya.



Laki-laki,
kalau tidak setia kepada wanitanya, 
tidak pantas menuntut wanitanya untuk setia kepadanya. 

Laki-laki yang adil, hanya mencintai satu wanita, sebagaimana dia menuntut wanitanya hanya mencintainya. 

Mario Teguh




Moving on itu bukan soal melupakan perasaan cinta, 
tapi tentang melanjutkan kehidupan dengan sebaik-baiknya, 
dan tidak lagi merindukan kebiasaan bersama dengan orang yang tidak cocok bagimu.

Mario Teguh
Read more »

Mengapa Donor Darah Gratis Tapi Penerimanya Harus Bayar?



Mengapa Donor Darah Gratis Tapi Penerimanya Harus Bayar?

Seingatku sejak menginjakkan kaki di Postulat Kapusin Mela-Sibolga hingga sebelum berangkat ke Tanah Misi di Australia, saya sangat rajin mendonorkan darah setiap tiga bulan atau lebih. 

Selain motivasi membantu mereka yang butuh tapi miskin juga kata Dokter dan ahli kesehatan itu bagus untuk kesehatan. Saya mendonorkan darah dengan hati ikhlas alias gratis namun para penerima donor selalu membayar sekian ratus ribu rupiah ntuk PMI. Mengapa tanyaku?
Pagi ini saya membaca sebuah artikel menjawab pertanyaan tadi walaupun saya kurang setuju dengan jawabannya.


Dituturkan bahwa "Setiap biaya yang dikeluarkan ketika membutuhkan darah adalah untuk biaya BPD atau biaya pemrosesan dari darah itu sendiri karena tak bisa langsung disalurkan dari pendonor ke penerima bukan buat bayar darahnya, bukannya harga si darah itu sendiri. 


Proses pengambilan darah dari pendonor memang tidak bisa langsung diberikan kepada penerima, ada tahapan yang harus dilakukan selama enam jam sebelum darah bisa diberikan kepada penerima harus melalui tahap uji kelayakan bebas dari penyakit seperti HIV, Malaria, dan Hepatitis. Juga dilihat kualitas darah yang bisa diberikan kepada penerima. Harga kantong darah yang masih impor pun menjadi salah satu faktor kenapa harga sekantong darah begitu mahal."

Rasa-rasanya keterangan ini kurang begitu masuk akal karena beberapa kali saya donor darah cuman hitungan menit darahnya langsung disalurkan ke pasien penerima. Jadi prosesnya tidak seperti disebutkan diatas. 


Menurut APBN tahun ini Bidang Kesehatan mempunyai anggaran terbesar ketiga setelah Pendidikan dan Agama, Koq kantong darah mesti diimpor dari luar negeri? Apa para dokter dan periset teknologi kesehatan "cukup bodoh" sehingga tidak mampu membuatnya dalam negeri dengan anggaran yang begitu melimpah. 
Source : FB P Martinus Situmorang
Read more »

Pertemuan Suster2 JMJ Bidang Kesehatan Prop Makassar

Terima kasih Tuhan atas kebersamaan selama pertemuan 3 hari bersama Rm Kusmaryanto SCJ dan rekan-rekan suster yang berkarya dalam kerasulan kesehatan, untuk berefleksi dan berevaluasi dalam berpastoral care kesehatan.
Orang yang hidup
Berhak untuk hidup
Karena dia sudah hidup
Dan mempunyai hidup.









Source : FB Sandar Supit

Read more »

Minggu, 24 Agustus 2014

Waaaah Inilah Ujung Indonesia Raya Paling Utara





Di depan Kilomeeter 0 kita langsung berhadapan dengan Lautan Hindia yang maha luas





Lautan Hindia yang maha luas terbentang di hadapan Kilometer 0.



KILOMETER 0 INDONESIA
KM NOL Indonesia ditandai dengan tulisan KILOMETER 0 secara mencolok di bagian depan sebuah tugu. Tugu itu sendiri tingginya 43,6 meter itu. Monumen Kilometer Nol ini, yang merupakan titik paling barat kepulauan Indonesia, terletak di pulau Weh, di areal Hutan Wisata Sabang, tepatnya di Desa Iboih Ujong Ba’u, Kecamatan Sukakarya. Letak geografisnya 05" Lintang Utara dan 95" Bujur Timur.
Saya beruntung dapat mengunjungi tempat ini tgl. 17 Agustus 2014, persis pada hari ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ke 69. Jalan menuju tempat ini sangat bagus dan mulus. Cuma kita harus hati-hati karena banyak tekongan dan turun naik. Terkadang jalan mendaki begitu tajam sehingga kendaraan harus menggunakan persnelling 1. Jaraknya antara kota Sabang dengan Kilometer Nol ini sekitar 30 km.


Source : FB Leo Sipahutar Ofmcap
Read more »